Lokasi :
Pulau Menjangan, disebelah utara Taman Nasional Bali barat yang termasuk
bagian dari Desa Sumber Klampok, kecamatan Grokgak yang berjarak sekitar 76 kilometer sebelah
Barat Kota Singaraja. Sejarah : dibangunnya Pura di pulau menjangan yang secara
umum di kenal dengan Pura. Menjangan (Pura Segara Giri Dharma Kencana) berdasar pada adanya historis perjalanan
Dang Hyang Siddhimantra ke Bali. Awalnya
sebelum Pura ini dibangun adalah
perbatasan anatara pulau Bali dan Pulau Jawa. Perbatasan inilah yang menjadi
awal cikal bakal pulau menjangan. Disebutkan di pulau ini Dang Hyang Siddhimantra menorehkan tongkat untuk
membelah pulau jawa dan Bali sampai torehan beliau ke pantai Segara rupek.
Sehingga dengan sejarah tersebut lahirlah pulau menjangan dan di bangunlah pura
untuk menghormati jasa beliau (Pura Segara Giri Dharma Kencana, Giri = Bumi, Wilayah, Dharma = Kebenaran dan Kencana = garis) . Piodalan : Purnama Kepitu. Pada umumnya ada 7
tempat bersembahyang yang sering menjadi tujuan pemedek untuk bersembahyang di Pulau Menjangan yaitu : 1. Pr. Tirta Pingit Klenting Sari/ Tamakn Beji, 2. Pr. Pesraman Agung
Brahma Ireng (Ratu Patih Keboiwa), 3. Pr. Pagoda Agung Dewi Kwan Im, (Dewi
Kemakmuran) 4. Pr. Pendopo Agung Gajah Mada, (Hyang Wisnu Murti) , 5. Bhatara
Lingsir Sang Hyang Pasupati, 6. Pr. Dalem Erlangga & Dalem Waturenggong, 7.
Ganesa & Dewi Parwati.
Selasa, 29 Desember 2015
Pura Melanting Pulaki
![]() |
| Pura Melanting |
![]() | |
| Pura Pulaki |
Kilat menyambar dan guruh
menggelegar di saat itu walau tidak ada hujan dan tidak ada badai, warga Mpu
Alaki lenyap dari pandangan, demi menjaga kesetiaan dan kasih sayang. Demi
penantian yang panjang dan dibayar dengan keabadian. Ida Peranda Sakti Wawu
Rauh yang mengira istri dan putrinya telah moksah baru menyadari hal ini
setelah beliau juga moksah di Ujung Selatan pulau Bali, di hulu batu yang
sepi... Belahan jiwanya, Danghyang Patni Keniten menyusul moksah bersama sang
putri yang bijak tanpa cela, Dyah Ayu Swabawa Melanting. Diikuti kemudian oleh
adindanya yang termuda, pangeran Bajra sang Ratu Samar. Tempat itu kini
terkenal dengan nama Pulaki, Dyah Ayu Melanting berstana di pura Melanting,
Pangeran Bajra di pura Kerta Kawat sebagai Pangeran Mentang Yuda yang adil
dalam memutuskan perkara. Ketiganya juga dipuja dan dilinggihkan di banyak pura
sebagai Ratu Niyang Lingsir yang pemurah, Dewayu Melanting yang bijak dan Ida
Bagus Ratu Samar. Walau telah moksah, Dyah Ayu Melanting tetap menyayangi dan
melimpahi berkat untuk para pedagang yang mau memilihkan barang dagangan
terbaik untuk pelanggan dan calon pelanggannya, di mana pun mereka berjualan,
dibantu oleh Batari Manik Muncar yang melindungi kejujuran transaksi. Untuk
pedagang yang melanggar hukum itu, walau tak pernah tertulis, jangan harap akan
mendapat kasih dan karunia dari beliau.
Pura Jaya Prana
![]() |
| Pura Jaya Prana |
Ditengah hati yang cemas,
Jayaprana pergi bersama Patih Saunggaling diiringi oleh beberapa prajurit.
Akhirnya mereka tiba di kawasan hutan di dekat Pura Teluk Terima. Secara
diam-diam Patih Saunggaling menusuk Jayaprana dengan kerisnya. Namun kesaktian
Jayaprana membuat tubuhnya tidak terluka sedikit pun. Jayaprana terkejut atas
ulah Patih Saunggaling, ia kemudian bertanya maksud si Paman Patih. Patih
Saunggaling akhirnya menceritakan latar belakang tindakannya tersebut, semua
adalah keinginan dari Sang Raja. Setelah memahami situasi yang sedang terjadi,
Jayaprana kemudian mengizinkan Patih Saunggaling untuk menusuk tubuhnya.
Jayaprana menganggap bahwa orang yang telah membesarkan dirinya adalah Raja,
maka Raja juga berhak mencabut nyawanya. Mayat Jayaprana dikubur di hutan
tersebut, Patih Saunggaling dan rombongan prajurit pulang kembali ke istana. Raja
lalu mengumumkan kepada warga istana bahwa Jayaprana tewas di tangan perampok.
Layonsari sangat terpukul mendengar kabar tersebut, ia merasa ada yang janggal
dari kejadian tersebut. Setelah melakukan tipu daya tersebut, Raja berusaha
menghibur hati Layonsari dan memaksa ia untuk menjadi istri raja. Layonsari kemudian menyadari bahwa yang
sebenarnya membunu’h suaminya adalah Raja, akhirnya dengan menggunakan keris
Sang Raja, Layonsari melakukan bunu’h diri. Kematian Layonsari membuat Raja
menjadi gila, ia kemudian menusuk semua orang yang ada di sekelilingnya.
Kekacauan terjadi, dan terjadilah perang saudara yang akhirnya memusnahkan
kerajaan tersebut untuk selama-lamanya. Itulah sekilas cerita Jayaprana
dan Layonsari yang menjadi inti dalam keberadaan Pura Jayaprana. Banyak warga
di seluruh Bali dan juga dari Jawa yang datang ke pura ini. Mereka berharap
agar apa yang menjadi tujuannya bisa terkabulkan. Adapun tiga permintaan yang
sering dipanjatkan oleh umat yang datang ke pura ini, selain untuk memohon
keselamatan adalah :
1. Memohon agar Diberikan Jodoh
Banyak pemuda-pemudi yang datang
ke pura ini selain untuk memanjatkan rasa bakti adalah berharap agar mendapatkan
jodoh. Selain itu, bagi sepasang kekasih berharap agar hubungan cinta mereka
dapat terjalin abadi.
2. Memohon agar Usaha / Bisnis
Berjalan Sukses
Bagi warga Bali yang memiliki
usaha dagang, pura ini adalah tempat yang baik untuk memohon kelancaran
bisnis/usaha. Banyak wiraswasta yang datang dan berdoa ke sini pada hari
purnama.
3. Memohon untuk Diberikan Anak
Menurut kepercayaan, di Pura
Jayaprana ini berstana Dewa/Dewi Kesuburan. Para pasangan suami – istri yang
belum memiliki keturunan dapat berdoa dan memohon di pura ini agar dianugrahkan
putra atau putri yang cantik (Saya juga sudah membuktikannya).
Itulah tiga macam doa yang sering
dipanjatkan di Pura Jayaprana. Jika Anda berlibur atau berwisata di kawasan
Bali Barat, maka Anda dapat mengunjungi dan tangkil di pura Jaya Prana sambil menikmati kawasan
Taman Nasional Bali Barat.
Pura Segara Rupek
Tidak banyak yang memperhatikan, ujung terjauh Bali di bagian barat bukanlah di Gilimanuk, melainkan di Segara Rupek. Dalam peta Pulau Bali, lokasi Segara Rupek ini tepat berada di ujung hidung Pulau Bali. Ini termasuk wilayah Kabupaten Buleleng. Dari sinilah sesungguhnya jarak dekat antara Bali dengan Jawa dan di sinilah secara historis menurut sumber-sumber susastra-babad, kisah pemisahan Bali dengan Jawa dimulai, sehingga Bali menjadi satu pulau yang utuh dan unik. Bisa dimengerti apabila tak banyak orang tahu betapa penting dan strategis keberadaan Segara Rupek bagi Bali. Untuk mencapai Segara Rupek relatif tidak mudah, bila hendak menempuh jalan darat satu-satunya jalan yang bisa ditempuh mesti melewati jalan menuju ke Pura Prapat Agung dan dari lokasi Pura Prapat Agung ini masih harus dilanjutkan lagi menempuh perjalanan darat sekitar 5 km menelusuri hutan lindung Taman Nasional Bali Barat (TNBB). Menurut lontar Babad Arya Bang Pinatih, Empu Sidi Mantra beryoga semadi memohon kerahayuan seisi jagat kehadapan Sang Hyang Siwa dan Sang Hyang Baruna Geni, Danghyang Sidimantra dititahkan untuk menggoreskan tongkat beliau tiga kali ke tanah, tepat di daerah ceking geting. Akibat goresan itu air laut pun terguncang, bergerak membelah bumi maka daratan Bali dan tanah Jawa yang semula satu itu pun terpisah oleh lautan, lautan itu dinamakan Selat Bali. Setahun sekali dilakukan upacara pakelem, banten dirgayusa bumi, tawur gentuh pada hari Anggara Umanis, Wuku Uye.
Pura Rambut Siwi
| Pasimpangan Pura Rambut Siwi |
Pura Rambut Siwi - kurang lebih
17 km di timur kota Negara -- adalah pura untuk memuja Tuhan sebagai dewanya
pertanian. Turun ke bawah di bagian tenggara Pura Rambut Siwi terdapat Pura
Segara. Pura ini ada juga yang menyebutnya Pura Taman. Bersebelahan dengan Pura
Segara itu terdapat Pura Penataran. Dalam acara persembahyangan apalagi kalau
ada pujawali atau piodalan, ketiga pura itu sangat nampak keterkaitannya.
Pujawali diadakan setiap enam bulan wuku yaitu pada hari Buda Umanis
Prangbakat. Umumnya kalau kita bersembahyang ke Pura Rambut Siwi ini pasti juga
dilakukan persembahyangan di Pura Segara dan Pura Penataran. Naik ke atas di
barat dayanya barulah Pura Rambut Siwi berdiri megah. Memperhatikan susunan
letak tiga pura tersebut nampak pura tersebut sangat tua umurnya. Karena
sebelum Mpu Kuturan mengajarkan pembangunan Kahyangan Tiga di setiap desa
pakraman di Bali sudah ada tiga jenis pura di setiap kerajaan di Bali yaitu
Pura Segara, Pura Penataran dan Pura Puncak. Pura Rambut Siwi ini tergolong
Pura Puncak-nya karena letaknya di puncak atau di dataran tinggi kalau dilihat
dari Pura Segara dan Penataran. Hal ini melambangkan pemujaan Tuhan menjiwai
Bhur Loka, Bhuwah Loka dan Swah Loka. Tiga pura tersebut melukiskan bahwa Tuhan
itu ada di mana-mana, di alam bawah, tengah maupun di alam atas. Di samping
itu, tiga pura ini sebagai media untuk memohon kedamaian di Tri Loka tersebut.
Memohon kedamaian di Tri Loka itu dinyatakan dalam mantram Atharvaveda dalam
kutipan di atas. Kalau langit, udara dan tanah serta air di bumi dalam keadaan
damai maka kehidupan agraris yang berpangkal pada eksistensi pertanian pasti
berlangsung dengan baik. Masyarakat di daerah Jembrana memohon kepada Tuhan di
Pura Rambut Siwi dengan Pura Penataran dan Pura Segara-nya agar bumi, udara dan
langit tidak terganggu fungsinya menjadi sumber kehidupan ekonomi agraris di
Jembrana. Kemakmuran ekonomi itu sangat tergantung pada tercukupnya kebutuhan
masyarakat akan makan, minum, sandang dan perumahan. Kalau tanah dan air rusak,
udara kotor penuh polusi maka pertanian itu akan sulit dikembangkan dengan
baik. Mengapa pura ini sekarang lebih terkenal dengan sebutan Pura Rambut Siwi?
Hal itu terkait dengan mitologi kedatangan Mpu Dang Hyang Nirartha dari Jawa
Timur atau Majapahit ke Bali. Menurut Mpu Bhaskara Murti dari Geria Madu Sudana
di kota Negara, saat Mpu Dang Hyang Nirartha ke Bali salah satu pura yang
beliau kunjungi adalah Pura Rambut Siwi. Saat beliau memasuki pura, penjaga
pura mengharuskan agar Mpu Dang Hyang Nirartha sembahyang di pura tersebut.
Kalau tidak, beliau akan diterkam oleh harimau. Karena diharuskan, menyembahlah
beliau di pura tersebut. Ternyata pura tersebut menjadi hancur berantakan.
Karena demikian, penjaga pura akhirnya mohon maaf kepada Mpu Dang Hyang
Nirartha. Di samping itu penjaga pura mohon agar pura itu dikembalikan pada
keadaan semula. Atas kewisesaan Mpu Dang Hyang Nirartha, pura itu pun kembali
utuh seperti sediakala. Mpu Dang Hyang Nirartha mengambil sehelai rambut beliau
diletakkan di pura tersebut untuk dijadikan sarana pemujaan di pura tersebut.
Sejak itulah pura tersebut bernama Pura Rambut Siwi. Nama Rambut Siwi inilah
yang lebih populer sampai saat ini. Saat Mpu Dang Hyang Nirartha ke Bali yang
berkuasa di Jembrana adalah I Gusti Ngurah Rangsasa. Konon penguasa ini
menganut ajaran Bairawa. Ajaran Bairawa ini bersumber dari ajaran Tantrayana.
Pada zaman dahulu banyak yang menyalahartikan ajaran Tantrayana ini. Misalnya
salah satu ajarannya ada yang menyatakan tentang maituna yang diartikan sebagai
hubungan seks secara bebas dan erotis. Hakikat ajaran maituna adalah suatu
sikap yoga untuk menguatkan dan meningkatkan hubungan purusa dengan pradana
dalam diri. Dari hubungan tersebut akan muncul daya spiritual dari dalam diri
yang lebih hebat. Daya spiritual itu akan mampu mengekspresikan kesucian Atman
mencapai Brahman/keadaan diri yang seperti itu akan berdaya guna untuk
membangun jati diri yang sehat jasmani dan rohani. Dalam Mahanirwana Tantra
dinyatakan bahwa Tantrayana itu menguatkan kekuatan Guna Sattwam dan Rajas
secara seimbang menguasai pikiran. Pikiran yang dikuatkan oleh Guna Sattwam dan
Rajas itu akan mampu membuat manusia berniat baik dan berbuat baik secara
nyata. Nampaknya ajaran Tantrayana inilah yang diluruskan oleh Mpu Dang Hyang
Nirartha ketika datang di Jembrana khususnya dan di Bali pada umumnya.
Langganan:
Postingan (Atom)


