Selasa, 29 Desember 2015

Pura Menjangan




Lokasi :  Pulau Menjangan, disebelah utara Taman Nasional Bali barat yang termasuk bagian dari Desa Sumber Klampok, kecamatan Grokgak  yang berjarak sekitar 76 kilometer sebelah Barat Kota Singaraja. Sejarah : dibangunnya Pura di pulau menjangan yang secara umum di kenal dengan Pura. Menjangan (Pura Segara Giri Dharma Kencana) berdasar pada adanya historis perjalanan Dang Hyang Siddhimantra  ke Bali. Awalnya sebelum Pura ini dibangun  adalah perbatasan anatara pulau Bali dan Pulau Jawa. Perbatasan inilah yang menjadi awal cikal bakal pulau menjangan. Disebutkan di pulau ini Dang Hyang Siddhimantra menorehkan tongkat untuk membelah pulau jawa dan Bali sampai torehan beliau ke pantai Segara rupek. Sehingga dengan sejarah tersebut lahirlah pulau menjangan dan di bangunlah pura untuk menghormati jasa beliau (Pura Segara Giri Dharma Kencana, Giri = Bumi, Wilayah, Dharma = Kebenaran dan Kencana = garis) . Piodalan : Purnama Kepitu. Pada umumnya ada 7 tempat bersembahyang yang sering menjadi tujuan pemedek untuk bersembahyang di Pulau Menjangan yaitu :   1. Pr. Tirta Pingit Klenting Sari/ Tamakn Beji, 2. Pr. Pesraman Agung Brahma Ireng (Ratu Patih Keboiwa), 3. Pr. Pagoda Agung Dewi Kwan Im, (Dewi Kemakmuran) 4. Pr. Pendopo Agung Gajah Mada, (Hyang Wisnu Murti) , 5. Bhatara Lingsir Sang Hyang Pasupati, 6. Pr. Dalem Erlangga & Dalem Waturenggong, 7. Ganesa & Dewi Parwati.

Pura Melanting Pulaki


Pura Melanting

Pura Pulaki 
Dalam perjalanan berat Peranda Sakti Wawu Rauh di bumi Bali, istri beliau, Danghyang Biyang Ketut atau disebut juga Danghyang Biyang Patni Keniten dari Belambangan, yang kelelahan seakan tak kuasa lagi mengangkat kakinya. Beliau dalam keadaan hamil tua, seluruh persendian kakinya membengkak dan ngilu dan nyeri. Padahal perjalanan masih sangat jauh. Malang benar, Peranda Suci Nirarta yang bijak itu sempat terbimbang sesaat hatinya, ingin direlakannya mengorbankan waktu menemani, tetapi mengingat pentingnya perjalanan dilanjutkan menuju ke timur secepatnya, maka diputuskanlah untuk meninggalkan belahan jiwanya sementara di tempat itu, ditemani salah satu putrinya, Dyah Ayu Swabawa. Putra-putrinya yang lain diajaknya serta karena mereka masih cukup kuat berjalan. Kelak sesampainya perjalan Danghyang di tujuan, akan diutusnya pengikutnya menjemput mereka. Jadilah Peranda istri ditemani sebagian pengikutnya, melepaskan lelah sampai sehat benar, membangun huma, berladang dan bersawah, sambil mengajar ilmu-ilmu kehidupan dan menjadi suri tauladan masyarakat di daerah itu. Lama kelamaan warganya pun makin banyak, sampai ribuan orang semua setia kepadanya. Karena kesaktian dan kearifannya, warga menggagapnya sebagai Mpu Biyang, ibu seluruh masyarakat di daerah itu. Beliau melahirkan seorang putra yang tampan, diberi nama Bagus Bajra, sesuai pesan ayahndanya. Putrinya, Dyah Ayu Swabawa pun semakin besar dan tumbuh menjadi putri yang sangat cerdas, bijak dan penuh pesona, dari wajahnya memancar wibawa kepemimpinan yang lebih dewasa dari umurnya. Di tangannya yang lembut, segala hal akan menjadi jauh lebih baik dan berguna. Jadilah beliau kesayangan masyarakat, tempat orang bertanya-tanya. Kecerdasannya nampak dalam ilmu berdagang. Salah satu nasihatnya ialah memikat pembeli dengan membantu mereka memilihkan barang-barang, hanya yang terbaik untuk pembeli, bahkan sebelum pembeli itu datang dan sebelum barang itu dibelinya, niscaya mereka akan kembali lagi, dan menjadi pelanggan yang setia. Daerah tempat Dyah Ayu Swabawa dan ibundanya tinggal itu kian ramai dikunjungi saudagar dari tempat lain, jadilah tempat itu marak dengan perniagaan karena masyarakat senang berbelanja di tempat itu. Namun harapan akan kedatangan utusan ayahnya menjemput tak kunjung kesampaian, walau Dyah Ayu hampir tiap hari memanjat pohon yang tinggi berayun-ayun menerawang tempat yang jauh menantikan munculnya utusan itu. Akhirnya orang-orang memberinya sebutan yang hormat dan sayang dengan Dyah Ayu Melanting, sedang ibundanya, tempat orang bermohon nasihat dan pertolongan disebut dengan Empu Alaki, artinya orang arif yang bersuami, walau suaminya sedang bepergian jauh. Waktu terus berlalu, rupanya terjadi salah paham. Peranda Istri putus asa menantikan pertemuannya kembali dengan tambatan hatinya, suami dan putra-putrinya yang lain, yang sangat dicintainya. Tak juga ada kabar berita. Beliau sangat menyesalkan perpisahan yang telah lalu, sehingga pada puncaknya, beliau menangis di sanggar pemujaan sambil mohon kepada Dewata agar dirinya bersama seluruh warganya diperbolehkan menunggu tanpa termakan usia, walau Dewata memberi persyaratan yang berat. Peranda Istri Mpu Alaki dan seluruh warganya dibebaskan dari perjalanan sang kala, luput dari penuaan dan kematian karena tua, namun tidak akan dapat dilihat orang lain. Dewata menjelaskan, persyaratan itu untuk menjaga agar umat yang lain tidak iri hati melihatnya abadi.
 
Kilat menyambar dan guruh menggelegar di saat itu walau tidak ada hujan dan tidak ada badai, warga Mpu Alaki lenyap dari pandangan, demi menjaga kesetiaan dan kasih sayang. Demi penantian yang panjang dan dibayar dengan keabadian. Ida Peranda Sakti Wawu Rauh yang mengira istri dan putrinya telah moksah baru menyadari hal ini setelah beliau juga moksah di Ujung Selatan pulau Bali, di hulu batu yang sepi... Belahan jiwanya, Danghyang Patni Keniten menyusul moksah bersama sang putri yang bijak tanpa cela, Dyah Ayu Swabawa Melanting. Diikuti kemudian oleh adindanya yang termuda, pangeran Bajra sang Ratu Samar. Tempat itu kini terkenal dengan nama Pulaki, Dyah Ayu Melanting berstana di pura Melanting, Pangeran Bajra di pura Kerta Kawat sebagai Pangeran Mentang Yuda yang adil dalam memutuskan perkara. Ketiganya juga dipuja dan dilinggihkan di banyak pura sebagai Ratu Niyang Lingsir yang pemurah, Dewayu Melanting yang bijak dan Ida Bagus Ratu Samar. Walau telah moksah, Dyah Ayu Melanting tetap menyayangi dan melimpahi berkat untuk para pedagang yang mau memilihkan barang dagangan terbaik untuk pelanggan dan calon pelanggannya, di mana pun mereka berjualan, dibantu oleh Batari Manik Muncar yang melindungi kejujuran transaksi. Untuk pedagang yang melanggar hukum itu, walau tak pernah tertulis, jangan harap akan mendapat kasih dan karunia dari beliau.

Pura Jaya Prana



Pura Jaya Prana
Pura Jaya Prana atau Pura Bhatara Sakti Wawu Rawuh atau yang lebih akrab dikenal sebagai Pura Teluk Terima adalah sebuah pura yang terletak di tengah kawasan Taman Nasional Bali Barat, Kecamatan Gerokgak, Kabupaten Buleleng – Bali.  Pura ini dapat ditempuh sekitar 4-5 jam perjalanan dengan menggunakan mobil/motor dari kota Denpasar. Setelah sampai di lokasi, kita harus berjalan kaki menaiki tangga sekitar satu km untuk mencapai areal Pura Jaya Prana tersebut. Jika baru pertama kali kesana, akan terasa cukup melelahkan. Keberadaan Pura Jaya Prana ini tidak terlepas dari kisah legenda cinta sepasang kekasih yang harus berakhir menyedihkan. Banyak menganggap kisah percintaan ini seperti Romeo dan Juliet versi Bali. Adalah seorang pemuda yang bernama Nyoman Jaya Prana. Dia adalah seorang yatim piatu. Sejak kecil, Jaya Prana menjadi abdi Raja di Kerajaan Kalianget. Karena kesungguhan dan ketulasan Jaya Prana mengabdi pada Sang Raja, Jaya Prana pun menjadi abdi kesayangan Raja. Setelah tumbuh menjadi seorang pemuda yang tampan dan gagah, Raja meminta Jayaprana untuk menikahi seorang gadis. Akhirnya setelah lama mencari, ia pun menjumpai seorang gadis cantik yang bernama Layonsari, putri seorang kepala desa. Kedua insan muda tersebut, saling jatuh cinta, dan atas ijin raja, pernikahan Jayaprana dan Layonsari digelar. Seuasai acara pernikahan dilaksanakan, Jayaprana dan Layonsari keesokan harinya menghadap raja untuk memohon doa restu. Alangkah terkejutnya raja, melihat kecantikan Layonsari. Sejak saat itulah, munculah niat Sang Raja untuk merebut Layonsari dari dekapan Nyoman Jayaprana. Kemudian Raja mengadakan rapat dengan beberapa patih untuk meminta pertimbangan agar bisa mendapatkan Layonsari. Atas usul Patih Saungguling, Raja diminta untuk memberi perintah kepada Jayaprana untuk pergi ke sisi barat daerah kerajaan membasmi para perampok. Di tengah suasana bulan madu, Jayaprana harus terpaksa meninggalkan istrinya untuk melaksanakan tugas dari Raja. Dengan diselimuti firasat buruk, Layonsari dengan berat hati memberikan ijin kepada suaminya untuk pergi beberapa hari.

Ditengah hati yang cemas, Jayaprana pergi bersama Patih Saunggaling diiringi oleh beberapa prajurit. Akhirnya mereka tiba di kawasan hutan di dekat Pura Teluk Terima. Secara diam-diam Patih Saunggaling menusuk Jayaprana dengan kerisnya. Namun kesaktian Jayaprana membuat tubuhnya tidak terluka sedikit pun. Jayaprana terkejut atas ulah Patih Saunggaling, ia kemudian bertanya maksud si Paman Patih. Patih Saunggaling akhirnya menceritakan latar belakang tindakannya tersebut, semua adalah keinginan dari Sang Raja. Setelah memahami situasi yang sedang terjadi, Jayaprana kemudian mengizinkan Patih Saunggaling untuk menusuk tubuhnya. Jayaprana menganggap bahwa orang yang telah membesarkan dirinya adalah Raja, maka Raja juga berhak mencabut nyawanya. Mayat Jayaprana dikubur di hutan tersebut, Patih Saunggaling dan rombongan prajurit pulang kembali ke istana. Raja lalu mengumumkan kepada warga istana bahwa Jayaprana tewas di tangan perampok. Layonsari sangat terpukul mendengar kabar tersebut, ia merasa ada yang janggal dari kejadian tersebut. Setelah melakukan tipu daya tersebut, Raja berusaha menghibur hati Layonsari dan memaksa ia untuk menjadi istri raja.  Layonsari kemudian menyadari bahwa yang sebenarnya membunu’h suaminya adalah Raja, akhirnya dengan menggunakan keris Sang Raja, Layonsari melakukan bunu’h diri. Kematian Layonsari membuat Raja menjadi gila, ia kemudian menusuk semua orang yang ada di sekelilingnya. Kekacauan terjadi, dan terjadilah perang saudara yang akhirnya memusnahkan kerajaan tersebut untuk selama-lamanya. Itulah sekilas cerita Jayaprana dan Layonsari yang menjadi inti dalam keberadaan Pura Jayaprana. Banyak warga di seluruh Bali dan juga dari Jawa yang datang ke pura ini. Mereka berharap agar apa yang menjadi tujuannya bisa terkabulkan. Adapun tiga permintaan yang sering dipanjatkan oleh umat yang datang ke pura ini, selain untuk memohon keselamatan  adalah  :

1. Memohon agar Diberikan Jodoh
Banyak pemuda-pemudi yang datang ke pura ini selain untuk memanjatkan rasa bakti adalah berharap agar mendapatkan jodoh. Selain itu, bagi sepasang kekasih berharap agar hubungan cinta mereka dapat terjalin abadi.

2. Memohon agar Usaha / Bisnis Berjalan Sukses
Bagi warga Bali yang memiliki usaha dagang, pura ini adalah tempat yang baik untuk memohon kelancaran bisnis/usaha. Banyak wiraswasta yang datang dan berdoa ke sini pada hari purnama.

3. Memohon untuk Diberikan Anak
Menurut kepercayaan, di Pura Jayaprana ini berstana Dewa/Dewi Kesuburan. Para pasangan suami – istri yang belum memiliki keturunan dapat berdoa dan memohon di pura ini agar dianugrahkan putra atau putri yang cantik (Saya juga sudah membuktikannya).

Itulah tiga macam doa yang sering dipanjatkan di Pura Jayaprana. Jika Anda berlibur atau berwisata di kawasan Bali Barat, maka Anda dapat mengunjungi dan tangkil di pura Jaya Prana sambil menikmati kawasan Taman Nasional Bali Barat.

Pura Segara Rupek





Tidak banyak yang memperhatikan, ujung terjauh Bali di bagian barat bukanlah di Gilimanuk, melainkan di Segara Rupek. Dalam peta Pulau Bali, lokasi Segara Rupek ini tepat berada di ujung hidung Pulau Bali. Ini termasuk wilayah Kabupaten Buleleng. Dari sinilah sesungguhnya jarak dekat antara Bali dengan Jawa dan di sinilah secara historis menurut sumber-sumber susastra-babad, kisah pemisahan Bali dengan Jawa dimulai, sehingga Bali menjadi satu pulau yang utuh dan unik. Bisa dimengerti apabila tak banyak orang tahu betapa penting dan strategis keberadaan Segara Rupek bagi Bali. Untuk mencapai Segara Rupek relatif tidak mudah, bila hendak menempuh jalan darat satu-satunya jalan yang bisa ditempuh mesti melewati jalan menuju ke Pura Prapat Agung dan dari lokasi Pura Prapat Agung ini masih harus dilanjutkan lagi menempuh perjalanan darat sekitar 5 km menelusuri hutan lindung Taman Nasional Bali Barat (TNBB). Menurut lontar Babad Arya Bang Pinatih, Empu Sidi Mantra beryoga semadi memohon kerahayuan seisi jagat kehadapan Sang Hyang Siwa dan Sang Hyang Baruna Geni, Danghyang Sidimantra dititahkan untuk menggoreskan tongkat beliau tiga kali ke tanah, tepat di daerah ceking geting. Akibat goresan itu air laut pun terguncang, bergerak membelah bumi maka daratan Bali dan tanah Jawa yang semula satu itu pun terpisah oleh lautan, lautan itu dinamakan Selat Bali. Setahun sekali dilakukan upacara pakelem, banten dirgayusa bumi, tawur gentuh pada hari Anggara Umanis, Wuku Uye.

Pura Rambut Siwi



Pasimpangan Pura Rambut Siwi
Pura Rambut Siwi - kurang lebih 17 km di timur kota Negara -- adalah pura untuk memuja Tuhan sebagai dewanya pertanian. Turun ke bawah di bagian tenggara Pura Rambut Siwi terdapat Pura Segara. Pura ini ada juga yang menyebutnya Pura Taman. Bersebelahan dengan Pura Segara itu terdapat Pura Penataran. Dalam acara persembahyangan apalagi kalau ada pujawali atau piodalan, ketiga pura itu sangat nampak keterkaitannya. Pujawali diadakan setiap enam bulan wuku yaitu pada hari Buda Umanis Prangbakat. Umumnya kalau kita bersembahyang ke Pura Rambut Siwi ini pasti juga dilakukan persembahyangan di Pura Segara dan Pura Penataran. Naik ke atas di barat dayanya barulah Pura Rambut Siwi berdiri megah. Memperhatikan susunan letak tiga pura tersebut nampak pura tersebut sangat tua umurnya. Karena sebelum Mpu Kuturan mengajarkan pembangunan Kahyangan Tiga di setiap desa pakraman di Bali sudah ada tiga jenis pura di setiap kerajaan di Bali yaitu Pura Segara, Pura Penataran dan Pura Puncak. Pura Rambut Siwi ini tergolong Pura Puncak-nya karena letaknya di puncak atau di dataran tinggi kalau dilihat dari Pura Segara dan Penataran. Hal ini melambangkan pemujaan Tuhan menjiwai Bhur Loka, Bhuwah Loka dan Swah Loka. Tiga pura tersebut melukiskan bahwa Tuhan itu ada di mana-mana, di alam bawah, tengah maupun di alam atas. Di samping itu, tiga pura ini sebagai media untuk memohon kedamaian di Tri Loka tersebut. Memohon kedamaian di Tri Loka itu dinyatakan dalam mantram Atharvaveda dalam kutipan di atas. Kalau langit, udara dan tanah serta air di bumi dalam keadaan damai maka kehidupan agraris yang berpangkal pada eksistensi pertanian pasti berlangsung dengan baik. Masyarakat di daerah Jembrana memohon kepada Tuhan di Pura Rambut Siwi dengan Pura Penataran dan Pura Segara-nya agar bumi, udara dan langit tidak terganggu fungsinya menjadi sumber kehidupan ekonomi agraris di Jembrana. Kemakmuran ekonomi itu sangat tergantung pada tercukupnya kebutuhan masyarakat akan makan, minum, sandang dan perumahan. Kalau tanah dan air rusak, udara kotor penuh polusi maka pertanian itu akan sulit dikembangkan dengan baik. Mengapa pura ini sekarang lebih terkenal dengan sebutan Pura Rambut Siwi? Hal itu terkait dengan mitologi kedatangan Mpu Dang Hyang Nirartha dari Jawa Timur atau Majapahit ke Bali. Menurut Mpu Bhaskara Murti dari Geria Madu Sudana di kota Negara, saat Mpu Dang Hyang Nirartha ke Bali salah satu pura yang beliau kunjungi adalah Pura Rambut Siwi. Saat beliau memasuki pura, penjaga pura mengharuskan agar Mpu Dang Hyang Nirartha sembahyang di pura tersebut. Kalau tidak, beliau akan diterkam oleh harimau. Karena diharuskan, menyembahlah beliau di pura tersebut. Ternyata pura tersebut menjadi hancur berantakan. Karena demikian, penjaga pura akhirnya mohon maaf kepada Mpu Dang Hyang Nirartha. Di samping itu penjaga pura mohon agar pura itu dikembalikan pada keadaan semula. Atas kewisesaan Mpu Dang Hyang Nirartha, pura itu pun kembali utuh seperti sediakala. Mpu Dang Hyang Nirartha mengambil sehelai rambut beliau diletakkan di pura tersebut untuk dijadikan sarana pemujaan di pura tersebut. Sejak itulah pura tersebut bernama Pura Rambut Siwi. Nama Rambut Siwi inilah yang lebih populer sampai saat ini. Saat Mpu Dang Hyang Nirartha ke Bali yang berkuasa di Jembrana adalah I Gusti Ngurah Rangsasa. Konon penguasa ini menganut ajaran Bairawa. Ajaran Bairawa ini bersumber dari ajaran Tantrayana. Pada zaman dahulu banyak yang menyalahartikan ajaran Tantrayana ini. Misalnya salah satu ajarannya ada yang menyatakan tentang maituna yang diartikan sebagai hubungan seks secara bebas dan erotis. Hakikat ajaran maituna adalah suatu sikap yoga untuk menguatkan dan meningkatkan hubungan purusa dengan pradana dalam diri. Dari hubungan tersebut akan muncul daya spiritual dari dalam diri yang lebih hebat. Daya spiritual itu akan mampu mengekspresikan kesucian Atman mencapai Brahman/keadaan diri yang seperti itu akan berdaya guna untuk membangun jati diri yang sehat jasmani dan rohani. Dalam Mahanirwana Tantra dinyatakan bahwa Tantrayana itu menguatkan kekuatan Guna Sattwam dan Rajas secara seimbang menguasai pikiran. Pikiran yang dikuatkan oleh Guna Sattwam dan Rajas itu akan mampu membuat manusia berniat baik dan berbuat baik secara nyata. Nampaknya ajaran Tantrayana inilah yang diluruskan oleh Mpu Dang Hyang Nirartha ketika datang di Jembrana khususnya dan di Bali pada umumnya.